Sabtu, 22 Oktober 2011

"MIDLIFE CRISIS" atau "PUBER KEDUA"


Bagi sebagian orang "Puber Kedua" di identikkan dengan jatuh Cinta lagi
Tentunya bukan dengan pasangannya


Bagi pasangan yang sudah menikah tentu tidak asing dengan istilah "Puber Kedua". 
Semua orang mengalami tahapan ini, tapi setiap orang berbeda kondisinya.....
Sebab seorang yang lebih percaya diri, perilaku kompensasinya tidak terlalu parah.


 Yang terpenting dalam satu pernikahan adalah Komitmen dan Kontrol Diri
Dan memasuki masa puber kedua sangat dibutuhkan Keterbukaan Pikiran kita
Jadi kita sendirilah yang menentukan mau bahagia atau tidak....???
Menghadapi  perubahan-perubahan diri dalam Puber Kedua "It's all about mind"


Sebenarnya apa yang dimaksud dengan puber kedua...?
Mengapa manusia bisa mengalami puber kedua....?
Dan kapan sejatinya setiap manusia mengalami puber kedua...?


Dalam dunia psikologi puber kedua dikenal dengan istilah "Midlife Crisis" atau krisis usia setengah baya.Didalam setiapmasa transisi atau perubahan masa perkembanganini belum tentu dirasakan nyaman oleh setiap orang, namun secara teori masih diperdebatkan sejuh mana periode ini disebut sebai periode krisis.
 Masa puber kedua ini sudah dimulai saat seseorang memasuki usia 40 tahun. Jadi saat pasangan kita menginjak usia 30 tahun, sangat penting bagi kita untuk meningkatkan respek atau penghargaan pada pasangan kita lewat kata-kata pujian dan perhatian.


Perubahan-perubahan yang terjadi lebih kearah psikologis, misalnya seseorang mulai mengevaluasi diri dengan mengajukan petanyan-pertanyan pada dirinya seperti "Sudah sampai mana sebenarnya saya dalam hidup ini?". Evaluasi diri yang terjadi belum tentu ditangapi positif oleh orang tersebut dan orang-orang disekitarnya. Sehingga saat mereka telah berdandan dan memakai parfum tapi tidak mendapatkan pujian oleh orang-orang sekitarnya maka untuk mendapatkan pengakuan mereka mencari ditempat lain, pada satu pribadi yang selalu limpah dengan penghargaan dan kekaguman kepada dirinya.

Apakah benar seseorang yang pada puber kedua akan dilanda jatuh cinta lagi?
Ternyata tidak selalu........!!!
Bukan berarti saat puber kedua hasrat seks kembali meningkat seperti muda dulu, tetapi lebih mengarah pada "kebutuhan untuk diperhatikan dan disanjung". Orang-orang yang tidak mendapatkann ya pada pasangannya akan mencari refreshment dari orang lain. Karena itulah orang tersebut akan lebih aware dengan orang yang memuji atau memberikan perhatian padanya. Kalau hal tersebut dibiarkan terus menerus akan membuat orang tersebut jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang lain tentu dapat merusak keutuhan rumahtangga yang sebelumnya telah di bangun.


Puber kedua adalah tahapan dari seorang dewasa berpindah menjadi tua. Berbeda dengan masa puber pertama yang super berani, masa puber kedua justru menjadi masa-masa di mana seseorang dihinggapi rasa takut, yaitu takut menjadi tua, takut menjadi tidak menarik lagi, takut mati, takut tidak berguna lagi, takut tidak kuat lagi, dan sebagainya. Maka dalam tahapan ini kelakuan seorang dewasa tampak menjadi aneh, yaitu bertingkah seperti anak baru gede, baik dari segi penampilan maupun perilakunya, sebagai bayarannya (kompensasi) untuk menutupi ketakutannya itu. Semakin dia takut, kelakuan dan penampilannya menjadi semakin aneh. Nah, pada masa-masa ini seseorang menjadi demikian rapuh, mudah tersinggung. Di sinilah peran pasangannya harus lebih toleran dan mencoba memahami apa yang ditakutkannya. Misalkan, dia takut dikatakan tua karena fisiknya yang memang sudah menurun vitalitasnya. Maka pasangannya mencoba menghindari untuk menyinggung masalah fisik. Sebaiknya, cobalah untuk memuji dan membesarkan hatinya bahwa dia tetap sebagai orang yang disayangi.


Hal yang berbahaya dalam tahapan ini adalah seseorang justru ingin menutupi ketakutannya dengan perilaku yang berbahaya. Misalnya, akibat takut dikatakan tidak menarik lagi dan sudah menurun vitalitasnya dalam berhubungan seks, dia akan mencoba untuk menutupinya dengan berhubungan dengan orang yang lebih muda, dengan harapan dia bisa bersaing dengan yang muda. Dalam tahapan ini, seseorang sering jatuh dalam percintaan semu sehingga menjadi masalah dalam rumah tangga. Di sinilah saatnya pasangan -- terutama seorang istri -- harus bisa menyelaraskan keadaan dengan melakukan "penyegaran" dengan berlaku seperti masa-masa pengantin baru atau masa-masa pacaran. Misalnya, pergilah menonton berdua, jalan-jalan berdua, bersikap lebih mesra, atau berdandan lebih muda dari biasanya supaya sang suami juga merasa dirinya kembali muda. Dan tunjukkan bahwa Anda sangat membutuhkannya dan tetap mengaguminya.


Karena masa puber adalah gejala yang dialami semua orang, bersikaplah arif dalam menjalaninya. Pada masa puber kedua ini, banyak hal yang ikut menyumbangkan ketakutan, seperti daya ingat yang melemah, belum lagi masa pensiun yang mulai menghadang dan anak-anak yang sedang membutuhkan biaya besar untuk pendidikan dan kebutuhan hidup. Semua itu memacu timbulnya depresi dan membuat daya tahan tubuh serta daya pikir semakin berkurang kemampuannya sehingga berefek ke masalah stamina, baik pada saat keseharian maupun pada saat berhubungan intim. Komunikasi yang baik di antara pasangan akan sangat berguna untuk meredam efek-efek negatif yang ditimbulkan pada masa-masa ini.


Sama seperti orang tua yang menghadapi anaknya pada saat melakoni puber pertama, begitu juga kita pada saat menghadapi pasangan yang melakoni puber kedua ini. Sikap berteman dan komunikasi yang baik akan sangat bermanfaat. Hindari sikap menghakimi dan marah, dan segalanya akan berjalan lebih lancar, damai dan baik-baik saja.


  Kenikmatan masa muda di Usia Senja
Keinginan untuk menikmati kembali  masa muda yang pernah dinikmati kembali terjadi pada individu pada masa-masa usia senja, perasaan tersebut dialami saat masuk pada fase pubertas


Istilah “puber” sebenarnya diambil atau berasal dari kata “pubes” yang artinya rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan. Kondisi ini dialami oleh anak berusia belasan tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Puber kedua adalah kondisi dimana terdapat kesamaan perilaku seperti yang dialami anak-anak yang memasuki masa puber, seperti lebih memperhatikan penampilan, lebih memperhatikan lawan jenis, dan sebagainya.
Puber kedua dialami oleh pria maupun wanita yang memasuki usia 40 tahun ke atas. Gejala yang timbul pada pria saat memasuki puber kedua adalah :
Enggan tampil tua. Mereka mulai memperhatikan penampilannya maupun keindahan tubuhnya. Rambutnya disemir ala anak muda, bergaya gaul, memodifikasi mobilnya menjadi ceper, dan sebagainya.
Mereka juga mulai senang kembali berpetualang. Mulai dari dari naik motor jarak jauh, sampai keluar masuk diskotek.
Produktivitas hidup meningkat. Banyak ditemui bahwa mereka semakin mahir bernegosiasi, semakin maju bisnisnya, maupun semakin memukau karirnya.
Sedangkan pada wanita, gejala yang muncul adalah :
Terganggu atau berhentinya proses menstruasi (terjadi menopause). Hal ini terjadi karena gonadotrop tidak diproduksi lagi oleh kelenjar hypophysc. Efek yang terjadi adalah pusing, lesu, dan kurang bergairah. Akibatnya kestabilan emosi sering terganggu.
Timbunan lemak menyusut sehingga kulit mulai keriput, bahkan buah dada mulai berubah bentuk. Rambutpun mulai memutih. Keadaan ini akan berpengaruh pada kejiwaannya. Apalagi jika suami memandang hal itu sebagai suatu kemunduran.

Puber kedua adalah kondisi dimana terdapat kesamaan perilaku seperti yang dialami remaja saat memasuki masa puber, yaitu memperhatikan lawan jenis


Walau memang tidak pernah ada istilah puber pertama dan puber ke tiga, namun istilah puber ke dua sebenarnya sebuah istilah untuk menggambarkan suatu kondisi dimana seorang individu pada masa usia senja mulai merasakan kembali “keremajaan” nya.


Setiap orang akan mengalami fase puber kedua ini. Karena itu perlu persiapan yang cukup matang untuk memasuki fase krisis ini. Di sinilah komitmen perkawinan kembali teruji.
Komunikasi dan pengertian memegang peran yang sangat penting bagi pasangan yang mulai memasuki masa puber kedua ini. Kondisi yang berbeda antara suami dan istri sering kali memicu konflik di antara mereka berdua. Suami semakin bersemangat dalam banyak hal, sedangkan istri semakin lesu dan kurang bergairah. Bila terjadi komunikasi yang baik diantara pasangan yang memasuki masa ini, maka masalah krisis kedua ini akan dapat diselesaikan dengan baik.


Pokoknya lewatkanlah puber kedua dengan cara yang menyenangkan dan bisa meningkatkan kualitas hidup anda. Dengan demikian, anda bisa merasakan bahwa puber kedua, bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan.




Beberapa kasus yang pernah terjadi di saat seseorang mengalami Puber Kedua :

KASUS 1

Perkawinan saya sudah berlangsung 15 tahun. Suami tidak pernah memerhatikan saya. Dia tidak pernah menghargai apa yang saya lakukan. Memang dulu saya tidak pernah masak dan kurang memerhatikan, tetapi sekarang saya sudah belajar dan bisa memasak makanan kesukaannya, menyediakan pakaian dalam di kamar mandi saat dia akan mandi, membuatkan kopi. Tetapi, dia sama sekali tidak pernah bilang terima kasih atau memuji perubahan saya.

Sering saya ke salon dan mengubah tatanan rambut atau pakai baju baru . Tetapi, dia cuek. Saya terkadang ingin dipeluk dan saya mendahului memeluk dari belakang. Namun, responsnya sama sekali tidak menyenangkan. ” Ah, panas, sambil melepas pelukan saya.”

Saya bukan menginginkan seks lebih. Saya hanya ingin sesekali dipuji, dihargai, dipeluk, dan dielus. Demikian Ny R (38).

”Ah, sejak 15 tahun lalu perlakuan saya memang begitu, dan dia tidak pernah protes. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi begitu banyak tuntutan.” Demikian S memprotes keluhan istrinya.

KASUS 2

”Saya heran kenapa istri saya jatuh cinta lagi. Padahal, dia sudah menikah hampir 13 tahun dengan saya. Saya menemukan Facebook-nya dengan lelaki berusia beberapa tahun di bawah dia. Dia mengaku itu teman adik kelas saat SMA. Saya menemukan indikasi dia sudah melakukan hubungan intim dengan laki-laki itu. Kata-katanya romantis yang saya rasa erat kaitannya dengan hubungan intim lelaki-perempuan.” Demikian Tn B (44).

”Saya akui saya sering Facebook-kan dengan bekas adik kelas. Awalnya dia mengungkap cerita-cerita lucu saat SMA, akhirnya dia mengatakan kagum dan tertarik kecantikan dan kepandaian saya.

Sebenarnya dia sudah menikah dan punya istri cantik dengan satu anak, tetapi dalam Facebook sering mengirimi saya puisi yang menyatakan kekaguman dan rayuan. Kami tidak pernah ketemu muka dan kami menyadari hubungan kami tidak tertuju pada sesuatu yang serius.

Namun, akhirnya karena perhatian yang dia berikan, saya mulai curhat hubungan saya yang kurang mesra dengan suami. Tetapi jujur, saya tidak pernah melakukannya. Saya hanya merasa ada seseorang yang memperlakukan saya dengan cara berbeda dengan apa yang dilakukan suami dan saya merasa benar-benar tersanjung. Dia juga sering men-support saat saya merasa kurang berhasil dalam kerja di kantor.” Demikian Ny C (41).

Krisis emosional

Dari kedua kasus tersebut, nyata kedua istri tersebut memiliki kebutuhan emosional khusus pada usia awal masa dewasa dan mengalami krisis emosional yang analog dengan krisis yang dihadapi puber kedua lelaki. Jadi, masa puber kedua tidak saja dialami lelaki, tetapi juga perempuan. Hanya umumnya perempuan usia tersebut menghadapi suami yang puber kedua dan juga anak-anak yang biasanya menginjak dewasa sehingga menuntut konsentrasi dan energi psikis penuh. Akibatnya, seolah puber kedua hanya dialami para lelaki-suami.

Kedua perempuan tersebut, rupanya tidak terganggu kesibukan dengan anak sehingga mendapat peluang mengungkap kebutuhan psikologis khusus itu.

Pada masa puber kedua, kebutuhan akan gairah kasih timbal-balik dengan pasangan, romantisme dalam jalinan kasih, dan rasa aman dalam kehidupan perkawinan muncul ke permukaan.

Muncul pula kebutuhan akan penghargaan eksistensi diri yang utuh dalam peran sebagai istri. Umumnya pada usia perkawinan tersebut masalah sosial ekonomi sudah teratasi. Pada kasus 1, kebutuhan Ny R menunjukkan besarnya energi psikologis yang mendorong kebutuhan interaksi psikoseksual yang penuh romantisisme untuk membuat dia merasa benar-benar dihargai keberadaannya secara utuh.

Kenyamanan psikologis

Bila kebutuhan mendasar ini dipenuhi oleh perubahan sikap suami, maka kenyamanan psikologis istri pun membuat jalinan kasih di antara kedua pasangan semakin membaik dan membahagiakan kedua pasangan.

Bagaimana halnya dengan kasus 2? Pada dasarnya Ny C sudah lama mendambakan perlakuan manis dari suami sehingga saat akhirnya berada dalam masa puber kedua kebutuhan akan perlakuan manis, kenyamanan, dan keamanan emosional yang seyogianya dipenuhi pihak suami dari awal perkawinannya ternyata diperoleh dari kehadiran adik kelas. Sanjungan, penghargaan, dan dukungan emosional berlanjut menstimulasi imajinasi erotis serta romantisisme psikoseksual.

Para suami seyogianya menyediakan waktu khusus untuk introspeksi diri, sejauh mana rasa hormat, penghargaan, loyalitas dan sentuhan kasih dan romantisisme suami-istri dalam kehidupan perkawinan selama ini tetap terjaga. Atas dasar hasil introspeksi ini ajaklah istri untuk mendiskusikan relasi yang terjalin selama ini. Kemudian, sepakat memperbaiki sesuai kebutuhan masing-masing pasangan demi keutuhan rumah tangga penuh kasih.






 Beberapa langkah bijak untuk mencegah Jatuh Cinta saat Puber Kedua :

1. Peka dan bekali diri dengan Informasi
Setiap orang harus peka pada perubahan dirinya sendiri, apa yang di pikirkan yang dan apa yang di rasakannya. Jangan di pendam sendiri tapi perlu share dengan orang lain Bekali diri dengan informasi tentang Puber Kedua agar bisa melewati fase krisis.

2. Keterbukaan dan Komunikasi yang Efektif
Keterbukaan antar pasangan sangatlah penting dalam mengrungi masa puber kedua.Ketika pasangan secara konsisten dapat membangun komunikasi secara efektif, maka perubahan yang terjadi akan di sadari dengan baik bahwa peningkatan dan kematangan kedua belah pihak terus berkembang.

3. Komintmen
Mengalami ketertarikan dengan orang lain bukanlah suatu hal yang dapat disangkal dan sangat wajar, tapi setiap orang harus mengin gat kembali Komitmen Pernikahan dengan pasangan sebagai sesuatu penting dan terutama diatas segalanya.

4. Bangun Inovasi
Membangun hubungan dngan pasangan di butuhkan inovasi, mengingat hidup selalu dinamis dan terus berkembang dimana setiap tahapan perlu perubahan dari kedua blah pihak.Sebaiknya terus belajar menyesuaikan diri, tidak terbatas dengan pasangan, namun juga dengan anak dan lingkungan.

5. Bangkitkan Romantisme
Sama halnya dengan remaja ,suasana romantis dibutuhkan pada masa "Midlife Crisis". Luangkan waktu hanya berdua dengan pasangan, bangkitkan suasana romantis misalnya honeymoon kembali, jalan-jalan berdua, obrolkan hanya tentang anda dan pasangan, bukan tentang anak-anak atau pekerjaan.

Lewatkanlah masa puber kedua anda dengan cara yang menyenangkan....!!!


Sebaiknya pasangan bersiap untuk menjadi penolong untuk siapa yang lebih dulu merasakan atau mengalaminya, entah sang istri atau sang suami. Jadilah penolong untuk pasangan dengan mencoba memupuk rasa kebersamaan yang lebih sering lagi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar